Kurikulum Merdeka Bebaskan Guru Berkreasi Membuat Bahan Ajar

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) telah meluncurkan Kurikulum Merdeka sebagai jawaban atas krisis pembelajaran yang semakin bertambah akibat pandemi Covid-19 yang menyebabkan hilangnya pembelajaran (learning loss) dan meningkatnya kesenjangan pendidikan.

Namun lebih dari itu, esensi Kurikulum Merdeka itu sendiri adalah menciptakan ruang bagi setiap individu untuk tumbuh dan berkembang sesuai fitrah keunikannya masing-masing.

 Pelaksana tugas Kepala Pusat Kurikulum dan Pembelajaran (Plt. Kapuskurjar), Zulfikri Anas mengatakan Kurikulum Merdeka dirancang untuk semua siswa agar seluruh bakat dalam siswa bisa berkembang.

"Karena setiap manusia tidak ada produk gagal dari Tuhan, dan setiap manusia punya keistimewaan dan punya ‘ruang’ masing-masing yang disediakan secara fitrah. Dan tugas kita adalah membantu anak menemukan ‘ruang’ yang sudah disediakan dalam kehidupan. Sehingga tidak ada anak yang tidak punya tempat dalam kehidupan,” tuturnya  dilansir dari laman Kemendikbud Ristek

Ia mengatakan, sebelum kurikulum ini diluncurkan, para guru jika mendengar kata kurikulum yang terlintas adalah administrasi rumit, bertele-tele, belenggu, dan seolah-olah tidak ada alternatif.

"Seolah semua anak dapat materi sama dengan cara sama, pengalaman belajar dan sumber belajar yang sama, penilaian yang sama, dan itu sehingga mungkin hanya mengakomodasi sebagian kecil anak yang cocok dengan cara seperti itu,” ungkap Zulfikri.

Kurikulum adalah sebuah proses, iklim, suasana, budaya belajar yang memanusiakan manusia. "Kita harus lihat kurikulum dari situ. Sehingga, tidak hanya kemampuan (skill) atau pengetahuan siswa saja yang dikedepankan oleh guru. Mari para guru kita bergerak bersama menyentuh hati peserta didik kita,” ajaknya.

Continue Reading

Tak Perlu Bingung, Ini Hal Penting dalam Penerapan Kurikulum Merdeka

KOMPAS.com – Berbagai studi nasional dan internasional menunjukkan bahwa Indonesia telah mengalami krisis pembelajaran (learning crisis) yang cukup lama. Krisis ini menjadikan pendidikan Indonesia semakin tertinggal dan mengalami kehilangan pembelajaran (learning loss).Terlebih, saat pandemi Covid-19 melanda.

Untuk mengatasi krisis tersebut, Indonesia memerlukan perubahan secara sistematis. Salah satunya melalui Kurikulum Merdeka yang baru diluncurkan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) pada Jumat (11/2/2022).

Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbud Ristek) Nadiem Anwar Makarim mengatakan, Kurikulum Merdeka dirancang lebih sederhana dan fleksibel. Selain itu, kurikulum ini akan fokus pada materi yang esensial dan membuat siswa lebih aktif.

“Jenis-jenis aktivitas yang ada dalam kurikulum ini lebih relevan dan banyak memberikan ruang untuk tugas berbasis proyek atau project base learning (PJBL),” ujar Nadiem dalam episode ke-15 Merdeka Belajar yang disiarkan di kanal Youtube Kemendikbud Ristek, Jumat.

Dengan sistem tersebut, pembelajaran yang inklusif akan tercipta. Sebab, Kurikulum Merdeka tidak hanya terpaku dengan kegiatan intrakurikuler, tetapi juga proyek penguatan Profil Pelajar Pancasila dan ekstrakurikuler.

Continue Reading

Jurusan IPA-IPS di SMA Ditiadakan, Rektor UGM: Mereka Harus Belajar Lebih Keras

Kebijakan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Anwar Makarim dinilai membuat siswa harus bekerja ekstra saat masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN).
Kurikulum Merdeka yang digagas Menteri Nadiem, membuat di sekolah tidak akan ada lagi jurusan atau peminatan seperti IPA, IPS, atau Bahasa. Siswa bisa bebas memilih mata pelajaran yang diminatinya di dua tahun terakhir saat SMA.

Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM) Panut Mulyono mengatakan, Kurikulum Merdeka menjadikan siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) menjadi tidak terfokus dalam menentukan nilai kemampuan dasar saat hendak masuk PTN.


"Menjadikan lulusan SMA tidak fokus pada dasar-dasar pengetahuan yang dimilikinya sebagai bekal melanjutkan studi di program studi perguruan tinggi," ujar Panut saat dihubungi MPI, Minggu (20/2/2022).

Continue Reading

3 Implementasi Kurikulum Merdeka yang Pro Siswa, Apa Saja?

KOMPAS.com - Kurikulum Prototipe resmi menyandang nama baru yakni, Kurikulum Merdeka. Semangat adanya kurikulum baru ini sangatlah jelas yaitu dalam rangka pemulihan pembelajaran.

Kurikulum ini diharapkan dalam mengatasi krisis pembelajaran yang menyebabkan pendidikan semakin tertinggal akibat hilangnya pembelajaran (learning loss) karena pandemi yang menerpa segala sendi kehidupan tak terkecuali pendidikan.

Kemendikbud Ristek memang masih membebaskan sekolah untuk memilih satu dari tiga kurikulum yang disediakan. Kurikulum tersebut adalah, pertama Kurikulum 2013 secara penuh. Kedua Kurikulum Darurat, yaitu Kurikulum 2013 yang disederhanakan. Serta ketiga, Kurikulum Merdeka.

Lalu apa keunggulan dari Kurikulum Merdeka daripada kurikulum lainnya sehingga sekolah bisa tertarik menerapkannya? Lalu bagaimana implementasinya dalam pembelajaran yang lebih berorientasi atau pro kepada siswa?

Continue Reading

Dibalik Sukses Acara Inovasi Sekolah Sejahtera

Pada tanggal 15 Februari 2022 di tengah kota Jogja dan dalam situasi hujan gerimis ada kehebohan atau keramaian sekumpulan orang-orang yang peduli dengan masa depan dunia pendidikan di Indonesia. Tepatnya di Hotel LPP Convention di jalan Demangan Yogyakarta, orang-orang dari koperasi SatuAja sudah sejak jam 8 pagi mempersiapkan acara seminar nasional Inovasi Sekolah Sejahtera.

Pada jam 9 para peserta mulai berdatangan. Demikian juga yang ikut secara online juga mulai pada masuk ruang virtual meeting. Sehingga acara ini berlangsung, peserta yang hadir mencapai 100 orang perwakilandari berbagai sekolah di Indonesia. Mungkin ini kesempatan yang bagus bagi mereka untuk membuka wawasan baru strategi meningkatkan kesejahteraan guru maupun karyawan dengan pendekatan koperasi di era digital ini.

Continue Reading

Kurikulum Merdeka ala Nadiem, Tak Ada Lagi Jurusan IPA-IPS di SMA

Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek), Nadiem Makarim meluncurkan Kurikulum Merdeka pada Jumat (11/2) lalu.

Nadiem mengklaim kurikulum tersebut bisa menciptakan kegiatan belajar menjadi lebih fleksibel. Beberapa opsi ditawarkan Nadiem dalam kurikulum ini.

Opsi pertama, sekolah akan diberikan kebebasan dalam menentukan kurikulum sesuai dengan kesiapannya masing-masing. Sekolah, kata dia, diperbolehkan tetap menggunakan kurikulum 2013 bila belum merasa nyaman melakukan perubahan.

"Tidak dipaksakan sama sekali, tidak perlu khawatir lagi bahwa sekolah-sekolah ganti menteri ganti kurikulum," ujar Nadiem.

Opsi kedua, Nadiem mengimbau sekolah yang ingin melakukan transformasi namun belum siap dengan perubahan besar, diperkenankan memilih kurikulum darurat.
Dan opsi terakhir, sekolah yang menginginkan dan siap dengan perubahan, diperbolehkan menggunakan kurikulum merdeka.

Continue Reading

3 Keunggulan Kurikulum Merdeka yang Diusung Menteri Nadiem

Jakarta - Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Makarim meluncurkan Kurikulum Merdeka sebagai solusi untuk mengatasi krisis pembelajaran akibat pandemi COVID-19. Kurikulum ini disebut memiliki tiga keunggulan.

Kurikulum Merdeka sebelumnya bernama Kurikulum Prototipe yang sudah diterapkan di hampir 2.500 Sekolah Penggerak dan 901 SMK Pusat Keunggulan. Kurikulum ini diluncurkan dalam Merdeka Belajar Episode ke-15 bertajuk 'Kurikulum Merdeka dan Platform Merdeka Mengajar', secara daring, Jumat (11/2/2022) kemarin.

Nadiem mengatakan, Kurikulum Merdeka lebih sederhana dan mendalam karena kurikulum ini akan fokus pada materi yang esensial dan pengembangan kompetensi peserta didik pada fasenya.

Keunggulan kedua, kurikulum ini tidak ada program peminatan bagi siswa jenjang SMA. Artinya, tenaga pendidik dan peserta didik akan lebih merdeka. Peserta didik diberi kebebasan untuk memilih mata pelajaran sesuai minat, bakat, dan aspirasinya.

Sedangkan bagi guru, mereka akan mengajar sesuai tahapan capaian dan perkembangan peserta didik. Lalu, sekolah memiliki wewenang untuk mengembangkan dan mengelola kurikulum dan pembelajaran sesuai dengan karakteristik satuan pendidikan dan peserta didik.

Continue Reading

7 Jurusan Kuliah untuk Anak SMK Berikut Prospek Kerjanya

KOMPAS.com - Tidak hanya untuk anak SMA/MA/Sederajat, tetapi anak SMK juga dapat meneruskan ke jenjang pendidikan tinggi. Tentu, semua harus linier dengan jurusannya.

Namun, kegalauan dalam memilih jurusan kuliah menjadi salah satu persoalan yang seringkali dihadapi oleh lulusan SMK.

Kira-kira apa ya jurusan kuliah yang cocok? Berikut ini 7 jurusan kuliah yang bisa kamu jadikan referensi saat bingung menentukan jurusan mana yang harus dipilih.

Kalau bisa, pilihlah jurusan yang linier dengan keahlian kamu sebelumnya. Apa saja jurusan kuliah untuk anak SMK?

Jurusan kuliah untuk anak SMK

Melansir laman Ruangguru, Kamis (13/1/2022), ini 7 jurusan kuliah untuk anak SMK berikut prospek kerjanya:

Continue Reading